Antara aku, otakku, dan ponselku

Aku lupa hari apa itu. Yang jelas waktu itu aku sedang bengong di depan laptopku sambil menjajakan dagangan sehari-hariku di Pasar Minggu. Tiba-tiba putra seorang pelangganku nyelonong kedepanku, ngelempoh di depan daganganku sambil mengunyah pentol dua ribuan yang dijajakan di depan pasar.

“Om. Boleh nanya ga?”

“Nanya aja. Lagi sepi kok, om juga bingung gimana mau bayar cicilan jaguar besok”

“Om, kenapa sih ke sekolah dilarang bawa ponsel?”

“Sek… sek… ponsel itu apa? Om ini cuma lulus SMP, dagang kecil2an di pasar… itu barang elektronik ya?”

“Itu telepon om. Telepon yang bisa dibawa ke mana-mana itu loh”

“Oooo…. wairles ya?”

“Bukan om… telepon seluler… telepon genggam.. henpun”

“Oh, ya wes anggap aja om ngerti… paling juga pembaca blog ini ngerti kok. Trus, yang ngelarang siapa?”

“Guru-guru… Seminggu dua kali ada rasia ponsel. Katanya ga bole bawa ke sekolah gitu”

“Kalo yang ngelarang gurumu, kenapa tanya alasannya ke om? Om kan ga pernah ngelarang”

“Ya ga tau… menurut om?”

“Kalo rasia gitu gimana?” Tanyaku sambil mengusiri lalat dari daganganku

“Ya paling disembunyikan di WC. Kadang disembunyikan di baju olah raga. Mau paling aman yang ditaruh di penis”

“Hush kamu itu masih kecil kok ngomong penis”

“Kenapa om? Penis kan anggota tubuh. Daripada bilang kontol?”

Aku manggut-manggut. Anak-anak jaman sekarang memang cerdas. Mendengar curahan hati anak kecil aku jadi teringat saat SMA dulu. Iya, tau tadi bilang lulus SMP, sekarang kok bisa SMA… Iya tau ga konsisten… Ga penting, jangan dibahas… Kepala sekolahku memanggilku ke ruangannya. Aku hampir yakin panggilan itu karena disuruh mencuci mobilnya atau membersihkan kamar mandi dalam di ruangan kepsek. Karena aku memang membayar uang sekolah dengan tenagaku. Tapi ternyata dugaanku meleset. Sambil bergoyang di kursi putarnya, Bapak Kepala Sekolah menunjukkan sebuah ponsel padaku dan menanyakan harganya.

“Kenapa pak? Mau dijual ya? Boleh deh saya beli murah-murah”

“Engga, Bapak baru nyita ponsel ini dari si A. Kalo dikasi ke TTM Bapak kira-kira keliatan mahal ga ya?”

Mader paker…. paking syit… pak… pak… Eh, aku malah dihukum nulis 200x “Saya berjanji tidak akan memaki-maki kepala sekolah”

Sebagian besar sekolah memang melarang siswanya membawa ponsel ke sekolah. Ngga jelas juga alasannya. Sebab di jaman yang serba maju ini, komunikasi malah dibatasi.

Di satu sisi fasilitas komunikasi kian dikembangkan. Internet semakin murah dan ada di mana-mana. Bahkan diiklankan di tipi bahwa kita bisa mencari kambing yang hilang di Internet.

Wifi gratis diluncurkan. Internet masuk desa diprogramkan. Internet masuk sekolah digodok dan dianggarkan. Tapi kenapa ponsel dilarang?

Apa guru-guru itu ga tau kalau ponsel sekarang murah-murah bisa internetan? Apa mereka ga tau kalau dengan beberapa ratus rupiah saja, kita bisa mengunduh buku pengetahuan yang isinya jauh lebih banyak dari kurikulum setahun?

Suatu hari anak dari temanku yang masih SD kutanya, “Nak, kamu tahu perang Diponegoro kapan?”

“Tau om. Jaman dulu kan?”

Dan kujendul kepalanya karena jawaban cerdas itu.

“Hehhee… 1825-1830 kan?” jawabnya setelah mengetikkan beberapa huruf di komputernya.

Nah, inikah e-learning? Inikah e-education?

Terbayang betapa cerdasnya masa depan bangsa kita bila semua anak mendapat akses seperti anak temanku itu. Seorang anak yang tidak bisa masuk sekolah karena kakeknya meninggal misalnya, tetap bisa mengikuti pelajaran hari itu melalui PDA nya. Konsultasi pelajaranpun bisa dilakukan melalui video call. Eeehhh… jangan salah, kalau gurunya cantik gimana? video call juga bisa untuk presentasi power point. Atau menunjukkan foto-foto atau diagram-diagram.

Terbayang betapa efisiennya proses belajar mengajar bila siswa sudah mengunduh materi pelajaran besok, dan membacanya di rumah. Di kelas, sang guru tinggal mengajak siswanya berdiskusi mengenai materi hari itu.

Terbayang betapa majunya perekonomian bila kesibukan siswa di sela-sela istirahat di kantinnya bukanlah ngerumpi tetapi mengendalikan perusahaan pemberian ayahnya melalui email. Sebab sekolah yang baik akan mendidikan siswanya menjadi enterprenuer (seperti saya meskipun hanya pedagang pasar) ketimbang menjadi pegawai. Karena peluang seorang enterprenuer lebih besar untuk mendulang emas lebih banyak ketimbang pegawai.

Apa jadinya bila semua siswa SMP-SMA dan mahasiswa membawa ponsel atau PDA atau laptop berwifi? Arus informasi akan mengalir lebih cepat, kecerdasan akan meningkat berkali-kali lipat.

Aku punya teman. Dia tinggal di kota kecil di luar Surabaya. Kotanya begitu kecil hingga dia bisa mengingat luasnya. Dan sarjanapun dia tidak. Tetapi lihatlah tulisan-tulisannya, dan cobalah bercakap-cakap dengan dia. Betapa akan terasa cerdas dia. Apa jawabnya kalau ditanya tau dari mana? “Wikipedia” “Google loh” Dan aku masih ingat betapa bahagianya dia ketika mendapatkan PDA pertamanya.

Sisi negatif? Situs porno? Nyontek dengan ponsel/ PDA?

Ah mikirin jeleknya terus, kapan mau melangkah maju? Ya itulah tugas orang tua dan guru untuk MENDIDIK, dan bukan hanya MENGAJAR. Pendekatan akhlak yang digunakan. Bukan hanya main blokir situs, dan menghukum, menghukum, menghukum. Melarang, melarang, melarang.

Ada sebuah sekolah di Balikpapan. Sekolah ini mendapat kesempatan untuk menikmati internet gratis tak terbatas atas kerjasama dengan salah satu operator seluler. Aku bertanya pada guru yang merangkap admin jaringannya, apakah pembatasan situs dilakukan? Jawabannya benar-benar menakjubkan. Anak-anak di sana diajarkan untuk SADAR akan manfaat dan bahaya dari Internet. Sehingga mereka tidak membuka situs porno dan sekawanan negatif lainnya bukan karena DILARANG, tetapi karena SADAR. Dan memang ada beberapa yang tetap melakukan, toh akan ketahuan juga akhirnya. Dan teguran akan diberikan. Tetapi bukan PEMBATASAN. Karena PEMBATASAN adalah PEMBODOHAN.

Seandainya semua siswa wajib menggunakan PDA…. Hmmm…….

~ by begobanget on 17 July, 2008.

12 Responses to “Antara aku, otakku, dan ponselku”

  1. aku mencium ada unsur promosi disini..
    *kabur*

  2. nggak jadi kabur lah om balik lagi belom puas nyampah disini

  3. satu lagi kok om, biar sah hettrik nya

  4. hettrix sah kalo empat bukan? Tambahin pok o ben trafiknya kenceng… aku kan juga pengen jadi seleb blog kayak mba ulan

  5. wah, pas sy SMA kok, boleh2 aja bawa ponsel sih

  6. wah, pas sy SMA kok, boleh2 aja bawa ponsel tuh.

    salam kenal!

  7. setuju dech..

    pembatasan adalah pembodohan.

  8. aku kok mencium bau gosong ?

  9. Paling terkesan dengan tulisan diakhir posting, “Tetapi bukan PEMBATASAN. Karena PEMBATASAN adalah PEMBODOHAN.”
    Mantap sekali, dan semoga para siswa lebih mempunyai kesadaran akan hal negatif dengan tidak mencobanya sendiri, misalnya narkoba atau sex bebas

  10. aku ko mencium bau kentut yah….????
    hehehehhehe

  11. kalo aku mau spam dulu…

    http://getmyfiles.co.cc

    kalo di delete, aku tunggingi :D

  12. mulai dari yang porno-porno juga sebenernya sih gapapa..
    biasanya ilmu perpornoan lebih gampang diserap..
    biasanya juga perpornoan juga tidak melulu menelorkan kepornoan lagi..
    paling tidak melatih kreatifitas untuk menghasilkan kepornoan yang baru..

    mari berporno ria..

    hhhhmmmmm…

    *kira-kira aku dapet kiriman PDA gratis ga yah sebagai hadiah??..
    paling tidak untuk menaikkan sedikit traffic dari blog ini…*

Leave a Reply