Newton’s Law
Dulu banget, aku masih ingat. Waktu itu aku sedang menarik-narik kerbauku supaya mau pulang ke kandang sehabis membajak sawah milik bulik. Aku lewat sebuah sekolah inpres. Ga jelas juga apa itu sekolah inpres. Katanya sih instruksi presiden. Tapi kok atapnya bolong-bolong dan jendelanya juga banyak yang ga ada. Mungkin instruksi bapak presiden untuk ngelubangi atap dan jendelanya kali ya.
Karena bolong itulah aku bisa mengintip ke dalam ruang kelas sambil tetap memegangi kemaluanku kerbauku.
Waktu itu di depan ada ibu guru yang cantik sekali. Saking cantiknya sampai aku sempat mengira Titik Puspa lagi ada kunjungan sosial ke sekolah-sekolah. Tapi setelah melihat tompel segede bakso di lehernya, yakinlah aku bahwa ibu guru itu bukanlah Titik Puspa yang sering dibicarakan bapak dan teman-temannya sewaktu menebang kayu bakar di hutan.
Kembali ke ibu guru. Si ibu waktu itu sedang menggambar garis dengan panah-panah. Aku tidak tau apa yang ditulis di sekitarnya. Maklumlah, aku hanya seorang penggembala kerbau yang tidak pernah makan bangku sekolah. Bukannya nggak mampu, tapi bapak sering bilang kalau bangku sekolah itu dari kayu, lebih baik dijual sebagai kayu bakar ketimbang di makan. Uang hasil penjualan bangku itu bisa dibelikan beras untuk makanku dan 18 orang saudaraku yang lain selama sebulan. Mungkin bapak kerjanya maling bangku sekolah.
Aku mendengar si ibu bilang “Hukum Newton berkata setiap ada aksi pasti ada reaksi”. Waktu itu aku tidak tau apa maksudnya.
Sekarang aku telah dewasa. Aku memiliki 5 pabrik, 20 hektar kebun kelapa sawit, 2 pulau di kepulauan Riau, 1 tambang bauksit, dan 1 tambang mineral langka. Aku memiliki ratusan istri dan seorang anak. Dan baru kemaren aku memahami bahwa setiap aksi pasti ada reaksi.
Namun sebuah reaksi itu tidaklah harus selalu sama besarnya dengan aksi. Dan reaksi ada dua bentuk. Reaksi positif, dan reaksi negatif. Reaksi positif akan memicu aksi-aksi positif berikutnya. Dan reaksi negatif akan memicu reaksi-reaksi negatif pula.
Seorang teman kemaren memberikan hukum alam yang berbeda lagi. Ada yang bernama “Diam”. Diam itu bukan reaksi. Sebuah aksi, diikuti dengan diam akan menjadi reaksi yang positif.
Aku tau tidak semua orang yang membaca tulisan ini mengerti apa yang aku maksudkan. Karena aku menyadari tidak semua orang di dunia ini pandai. Tetapi seberapa bodohnya kita, kita bisa selalu belajar dari pengalaman hidup. Dan itu akan menjadikan kita semakin bodoh, sekaligus semakin bijak.
Menjadi bijak tidaklah sama dengan menjadi pandai.
Diam itu bukan reaksi.
Alam akan mengajarkan banyak hal kepada kita.
Tidak ada yang perlu disesali dalam hidup ini.
Apabila seseorang diterpa masalah yang begitu besar, hanya ada dua kemungkinan: Hancur, atau Semakin Kuat. Dan aku memilih yang kedua.
Menjadi tua itu pasti, menjadi muda itu mustahil.
Biarlah yang mengerti tetap mengerti, yang tidak mengerti diem aja. JANGAN NGEJUNK DI BLOG INI!
wassalamualaikum warramatulahi wabarokatu….

Hmmm…
Masih menye-menye..
semoga aq bsa menjadi lbh kuat
n lbh bsa memahami ttg —>>
beRAHASIA n beRASIO itu INDAH
INDAH itu nama tengahQ..
Emang titik puspa ga punya tompel?
Jd tipenya koko ini perempuan bertompel..
*manggut2 bijak*
@irdix:Biarlah yang mengerti tetap mengerti, yang tidak mengerti diem aja. JANGAN NGEJUNK DI BLOG INI!
Aq lak yo pingin ngejunk seeh..
Padahal dalam hatimu yg terdalam lak seneng seeh?
Asline lho..
Trepikmu lak naik seh?
Emang sapa pendukungmu di
masa kampanyemasa murung mu?oalah ada bahan buat ngejunk lagi to??
Temen saya kemaren ketika naik mobil diserempet mobil lain. Dia diam saja karena bosnya sedang memaki2 mengenai suatu urusan di telp.
Untuk beberapa saat temen saya nyesel kenapa saat itu dia diam.
Ah swt dah