PEMERASAN

•28 September, 2008 • 4 Comments

25 Juli 2008, 11 hari setelah Paman Sam merayakan ulang tahunnya, saya dibergi tugas oleh seekor tikus yang bisa ngetik.

Dikarenakan pada saat itu saya sedang onani, dan ga orgasme hingga beberapa hari, maka tugas tersebut dilupakan. Kemudian beberapa hari yang lalu saya lagi onani lagi, dan teringat pada sang tikus, inspirasi onani saya.

Jujur, saya malas mengerjakan tugas ga penting ini. Tapi ya apa mau dikata, ini sebuah pemerasan. Mau ga mau harus dilakukan. So, here it is.

Pertanyaannya adalah:

1. Kenapa Ngeblog ?
2. Sejak kapan ?
3. Sapa yang ngajak/menginspirasi untuk ngeblog ?
4. Pernah nulis soal Tuhan ?
5. Kalo soal pacar ?
6. Apa yang paling banyak kmu tulis ?
7. Pesan dan Kesan selama Bloging ?

Setiap point bernilai 20. Jika salah akan dikurangi 10. Tidak boleh ada koreksi ataupun coretan. Baiklah, jawaban dimulai.

1. Kenapa ngeblog

Sungguh mati saya ga pernah tau kenapa ngeblog. Saya cuma wong goblog yang hobbynya main penis golog. Mungkin karena saya liat banyak orang yang jadi gila terkenal gara-gara blognya. Saya cuma ikut-ikutan saja kok ngeblog ini. Karena blog dan friendster hanyalah trend sesaat. SUMPAH, demi Ooy Ouyo.

2. Sejak kapan

Pada mulanya bumi berbentuk bulat dan Roh Tuhan melayang-layang di atasnya. Kemudian Adam dan Hawa diciptakan. Kemudia mereka berzinah. Kemudian saya lahir. Kemudian saya ngeblog.

3. Siapa yang ngajak/ nginspirasi untuk ngeblog

Waktu itu saya naksir seorang cowo. Ya hormon gay saya sedang kumat. Dalam rangka mengenal lebih jauh tentang dia, saya mulai membaca-baca blognya. Kemudian, dalam rangka merayu, saya bilang kalau blognya menjijikkan bagus. Saya suka. Dan dia mulai memeras saya untuk bikin blog juga jika saya ingin penis saya dihisap olehnya. Jadilah blog ini.

4. Pernah nulis soal Tuhan

Semua isi blog ini adalah tentang Tuhan. Tergantung dari sudut mana anda memaknai Tuhan.

**Tolong… wahai FPI, jangan lempari saya dengan batu….

5. Kalo soal pacar

Semua isi blog ini adalah tentang pacar. Well, pacar saya memang banyak.

6. Apa yang paling banyak kamu tulis

Huruf A, I, U, E, O. Coba hitung sendiri kalau tidak percaya.

7. Pesan dan kesan selama blogging

Menulis blog adalah seperti buah simalakama. Kalau tulisanmu jelek, blogmu akan sepi pengunjung. Kalau tulisanmu bagus, semua orang akan memintamu untuk terus menulis dan menulis dan menulis terus. Memangnya kita ini pengangguran? Memangnya waktu kita hanya buat nulis apa? Dasar penggemar tidak tahu diri.

Antara aku, otakku, dan ponselku

•17 July, 2008 • 12 Comments

Aku lupa hari apa itu. Yang jelas waktu itu aku sedang bengong di depan laptopku sambil menjajakan dagangan sehari-hariku di Pasar Minggu. Tiba-tiba putra seorang pelangganku nyelonong kedepanku, ngelempoh di depan daganganku sambil mengunyah pentol dua ribuan yang dijajakan di depan pasar.

“Om. Boleh nanya ga?”

“Nanya aja. Lagi sepi kok, om juga bingung gimana mau bayar cicilan jaguar besok”

“Om, kenapa sih ke sekolah dilarang bawa ponsel?”

“Sek… sek… ponsel itu apa? Om ini cuma lulus SMP, dagang kecil2an di pasar… itu barang elektronik ya?”

“Itu telepon om. Telepon yang bisa dibawa ke mana-mana itu loh”

“Oooo…. wairles ya?”

“Bukan om… telepon seluler… telepon genggam.. henpun”

“Oh, ya wes anggap aja om ngerti… paling juga pembaca blog ini ngerti kok. Trus, yang ngelarang siapa?”

“Guru-guru… Seminggu dua kali ada rasia ponsel. Katanya ga bole bawa ke sekolah gitu”

“Kalo yang ngelarang gurumu, kenapa tanya alasannya ke om? Om kan ga pernah ngelarang”

“Ya ga tau… menurut om?”

“Kalo rasia gitu gimana?” Tanyaku sambil mengusiri lalat dari daganganku

“Ya paling disembunyikan di WC. Kadang disembunyikan di baju olah raga. Mau paling aman yang ditaruh di penis”

“Hush kamu itu masih kecil kok ngomong penis”

“Kenapa om? Penis kan anggota tubuh. Daripada bilang kontol?”

Aku manggut-manggut. Anak-anak jaman sekarang memang cerdas. Mendengar curahan hati anak kecil aku jadi teringat saat SMA dulu. Iya, tau tadi bilang lulus SMP, sekarang kok bisa SMA… Iya tau ga konsisten… Ga penting, jangan dibahas… Kepala sekolahku memanggilku ke ruangannya. Aku hampir yakin panggilan itu karena disuruh mencuci mobilnya atau membersihkan kamar mandi dalam di ruangan kepsek. Karena aku memang membayar uang sekolah dengan tenagaku. Tapi ternyata dugaanku meleset. Sambil bergoyang di kursi putarnya, Bapak Kepala Sekolah menunjukkan sebuah ponsel padaku dan menanyakan harganya.

“Kenapa pak? Mau dijual ya? Boleh deh saya beli murah-murah”

“Engga, Bapak baru nyita ponsel ini dari si A. Kalo dikasi ke TTM Bapak kira-kira keliatan mahal ga ya?”

Mader paker…. paking syit… pak… pak… Eh, aku malah dihukum nulis 200x “Saya berjanji tidak akan memaki-maki kepala sekolah”

Sebagian besar sekolah memang melarang siswanya membawa ponsel ke sekolah. Ngga jelas juga alasannya. Sebab di jaman yang serba maju ini, komunikasi malah dibatasi.

Di satu sisi fasilitas komunikasi kian dikembangkan. Internet semakin murah dan ada di mana-mana. Bahkan diiklankan di tipi bahwa kita bisa mencari kambing yang hilang di Internet.

Wifi gratis diluncurkan. Internet masuk desa diprogramkan. Internet masuk sekolah digodok dan dianggarkan. Tapi kenapa ponsel dilarang?

Apa guru-guru itu ga tau kalau ponsel sekarang murah-murah bisa internetan? Apa mereka ga tau kalau dengan beberapa ratus rupiah saja, kita bisa mengunduh buku pengetahuan yang isinya jauh lebih banyak dari kurikulum setahun?

Suatu hari anak dari temanku yang masih SD kutanya, “Nak, kamu tahu perang Diponegoro kapan?”

“Tau om. Jaman dulu kan?”

Dan kujendul kepalanya karena jawaban cerdas itu.

“Hehhee… 1825-1830 kan?” jawabnya setelah mengetikkan beberapa huruf di komputernya.

Nah, inikah e-learning? Inikah e-education?

Terbayang betapa cerdasnya masa depan bangsa kita bila semua anak mendapat akses seperti anak temanku itu. Seorang anak yang tidak bisa masuk sekolah karena kakeknya meninggal misalnya, tetap bisa mengikuti pelajaran hari itu melalui PDA nya. Konsultasi pelajaranpun bisa dilakukan melalui video call. Eeehhh… jangan salah, kalau gurunya cantik gimana? video call juga bisa untuk presentasi power point. Atau menunjukkan foto-foto atau diagram-diagram.

Terbayang betapa efisiennya proses belajar mengajar bila siswa sudah mengunduh materi pelajaran besok, dan membacanya di rumah. Di kelas, sang guru tinggal mengajak siswanya berdiskusi mengenai materi hari itu.

Terbayang betapa majunya perekonomian bila kesibukan siswa di sela-sela istirahat di kantinnya bukanlah ngerumpi tetapi mengendalikan perusahaan pemberian ayahnya melalui email. Sebab sekolah yang baik akan mendidikan siswanya menjadi enterprenuer (seperti saya meskipun hanya pedagang pasar) ketimbang menjadi pegawai. Karena peluang seorang enterprenuer lebih besar untuk mendulang emas lebih banyak ketimbang pegawai.

Apa jadinya bila semua siswa SMP-SMA dan mahasiswa membawa ponsel atau PDA atau laptop berwifi? Arus informasi akan mengalir lebih cepat, kecerdasan akan meningkat berkali-kali lipat.

Aku punya teman. Dia tinggal di kota kecil di luar Surabaya. Kotanya begitu kecil hingga dia bisa mengingat luasnya. Dan sarjanapun dia tidak. Tetapi lihatlah tulisan-tulisannya, dan cobalah bercakap-cakap dengan dia. Betapa akan terasa cerdas dia. Apa jawabnya kalau ditanya tau dari mana? “Wikipedia” “Google loh” Dan aku masih ingat betapa bahagianya dia ketika mendapatkan PDA pertamanya.

Sisi negatif? Situs porno? Nyontek dengan ponsel/ PDA?

Ah mikirin jeleknya terus, kapan mau melangkah maju? Ya itulah tugas orang tua dan guru untuk MENDIDIK, dan bukan hanya MENGAJAR. Pendekatan akhlak yang digunakan. Bukan hanya main blokir situs, dan menghukum, menghukum, menghukum. Melarang, melarang, melarang.

Ada sebuah sekolah di Balikpapan. Sekolah ini mendapat kesempatan untuk menikmati internet gratis tak terbatas atas kerjasama dengan salah satu operator seluler. Aku bertanya pada guru yang merangkap admin jaringannya, apakah pembatasan situs dilakukan? Jawabannya benar-benar menakjubkan. Anak-anak di sana diajarkan untuk SADAR akan manfaat dan bahaya dari Internet. Sehingga mereka tidak membuka situs porno dan sekawanan negatif lainnya bukan karena DILARANG, tetapi karena SADAR. Dan memang ada beberapa yang tetap melakukan, toh akan ketahuan juga akhirnya. Dan teguran akan diberikan. Tetapi bukan PEMBATASAN. Karena PEMBATASAN adalah PEMBODOHAN.

Seandainya semua siswa wajib menggunakan PDA…. Hmmm…….

Newton’s Law

•12 July, 2008 • 10 Comments

Dulu banget, aku masih ingat. Waktu itu aku sedang menarik-narik kerbauku supaya mau pulang ke kandang sehabis membajak sawah milik bulik. Aku lewat sebuah sekolah inpres. Ga jelas juga apa itu sekolah inpres. Katanya sih instruksi presiden. Tapi kok atapnya bolong-bolong dan jendelanya juga banyak yang ga ada. Mungkin instruksi bapak presiden untuk ngelubangi atap dan jendelanya kali ya.

Karena bolong itulah aku bisa mengintip ke dalam ruang kelas sambil tetap memegangi kemaluanku kerbauku.

Waktu itu di depan ada ibu guru yang cantik sekali. Saking cantiknya sampai aku sempat mengira Titik Puspa lagi ada kunjungan sosial ke sekolah-sekolah. Tapi setelah melihat tompel segede bakso di lehernya, yakinlah aku bahwa ibu guru itu bukanlah Titik Puspa yang sering dibicarakan bapak dan teman-temannya sewaktu menebang kayu bakar di hutan.

Kembali ke ibu guru. Si ibu waktu itu sedang menggambar garis dengan panah-panah. Aku tidak tau apa yang ditulis di sekitarnya. Maklumlah, aku hanya seorang penggembala kerbau yang tidak pernah makan bangku sekolah. Bukannya nggak mampu, tapi bapak sering bilang kalau bangku sekolah itu dari kayu, lebih baik dijual sebagai kayu bakar ketimbang di makan. Uang hasil penjualan bangku itu bisa dibelikan beras untuk makanku dan 18 orang saudaraku yang lain selama sebulan. Mungkin bapak kerjanya maling bangku sekolah.

Aku mendengar si ibu bilang “Hukum Newton berkata setiap ada aksi pasti ada reaksi”. Waktu itu aku tidak tau apa maksudnya.

Sekarang aku telah dewasa. Aku memiliki 5 pabrik, 20 hektar kebun kelapa sawit, 2 pulau di kepulauan Riau, 1 tambang bauksit, dan 1 tambang mineral langka. Aku memiliki ratusan istri dan seorang anak. Dan baru kemaren aku memahami bahwa setiap aksi pasti ada reaksi.

Namun sebuah reaksi itu tidaklah harus selalu sama besarnya dengan aksi. Dan reaksi ada dua bentuk. Reaksi positif, dan reaksi negatif. Reaksi positif akan memicu aksi-aksi positif berikutnya. Dan reaksi negatif akan memicu reaksi-reaksi negatif pula.

Seorang teman kemaren memberikan hukum alam yang berbeda lagi. Ada yang bernama “Diam”. Diam itu bukan reaksi. Sebuah aksi, diikuti dengan diam akan menjadi reaksi yang positif.

Aku tau tidak semua orang yang membaca tulisan ini mengerti apa yang aku maksudkan. Karena aku menyadari tidak semua orang di dunia ini pandai. Tetapi seberapa bodohnya kita, kita bisa selalu belajar dari pengalaman hidup. Dan itu akan menjadikan kita semakin bodoh, sekaligus semakin bijak.

Menjadi bijak tidaklah sama dengan menjadi pandai.

Diam itu bukan reaksi.

Alam akan mengajarkan banyak hal kepada kita.

Tidak ada yang perlu disesali dalam hidup ini.

Apabila seseorang diterpa masalah yang begitu besar, hanya ada dua kemungkinan: Hancur, atau Semakin Kuat. Dan aku memilih yang kedua.

Menjadi tua itu pasti, menjadi muda itu mustahil.

Biarlah yang mengerti tetap mengerti, yang tidak mengerti diem aja. JANGAN NGEJUNK DI BLOG INI!

wassalamualaikum warramatulahi wabarokatu….

Mengendap

•11 July, 2008 • 41 Comments

Diam….

Tenang…..

Mendendap….

Dan semuanya menjadi jernih…

Semua menjadi jelas…

Tidak ada yang bisa mencabik-cabik bulu yang terbang ditiup angin…

Betapapun kencang angin itu, bulu itu hanya mengikuti arah angin…

Kini gundahku sirna… yang ada hanya bahagia…

Thanks to those whose support me on my low state… God bless U.

Satu bulan

•9 July, 2008 • 9 Comments

“Cinta ga pernah salah”

Reaksi cinta yang salah

“Berahasia dan berasio itu indah”

Rahasia itu menyiksa batinku

“Kamu kenal aku…”

Yakinkah dirimu bahwa aku mengenalmu?

“Bermainlah dengan pikiran dan perasaanmu”

Pikiran dan perasaanku mempermainkan aku

“Beib…..”

Yes dear….

“Kamu ga papa kan?”

I’m fine

“Seribu kali kamu minta maaf, aku punya seribu satu maaf buat kamu”

Still.. I’m sorry

“Aku sayang kamu… Banget”

Apakah sayangmu hanya untuk aku?

“Kamu ga bisa dipercaya”

Ya, aku terima salah

“Maaf ga ada gunanya. Kamu sudah menyakiti aku”

Aku juga sakit sayang…

“Kamu siapa? Aku siapa?”

Aku orang yang menyayangimu dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya

“Jangan menuntut lebih kalau tidak bisa memberi lebih”

Itu fakta yang sangat menyiksa

“Sudah siap kehilangan aku?”

Aku ga akan pernah siap kehilangan kamu. Tapi aku juga (mungkin) ga akan pernah bisa memilikimu

Manusia bodoh satu ini masih menyayangimu. Dan kebodohanku sudah menyakitimu. Akhirnya menyakiti diriku sendiri.

Indahkah?

•8 July, 2008 • 6 Comments

Melihatmu berada di pelukan orang lain

Membaca kata-kata mesramu pada orang lain

Melihat dirimu menyembunyikan banyak tawa entah mengapa

Tapi aku nggak peduli

It’s one way rules

Birthday Wish

•12 June, 2008 • 3 Comments

Mungkin anti-age cream sudah ditemukan. Tahun kelahiran di KTP juga bisa dipalsukan, asal kenal dengan orang yang tepat. Tapi apa iya waktu bisa dikadali?

Jadi tua itu pasti, apalagi mati. Jadi kenapa harus disesali? Met ultah ya buat yang pernah dilahirkan 11 Juni entah berapa puluh tahun yang lalu….

Dari Neraka Aku Memandang Surga

•10 June, 2008 • 7 Comments

22-12 Neraka

12-22 Memandang Surga

Dari neraka aku memandang surga

Tidur Denganmu

•9 June, 2008 • 16 Comments

Dekat denganmu memang menggairahkan hidupku. Meskipun tidak setiap saat aku memikirkanmu, karena aku juga butuh waktu untuk boker diriku sendiri. Tetapi di sela-sela kesibukanku, senyummu, kecerdasanmu, kemolekanmu pasti melintas dalam otakku.

Bercakap-cakap denganmu memang membakar birahiku. Meskipun aku tidak bermasturbasi saat bercakap-cakap denganmu, karena kedua tanganku sibuk menekan tombol-tombol pentilmu keyboard. Tetapi sambil aku melontarkan lelucon-leluconku, gairahku ingin mendekapmu.

Menatapmu memang meningkatkan tekanan darahku. Meskipun kelelakianku tidak menegang saat memandang wajah cantikmu, karena aku impoten bukan pria yang terangsang melalui pandangan. Teapi melalui kedua pupilku aku merekam setiap lekuk indah dirimu, aku ingin memilikimu.

Tetapi!

Aku ingin kamu tahu. Bersetubuh denganmu tidak ada dalam daftar hal-hal yang harus kulakukan bersamamu. Bukannya kamu tidak menarik. Bukannya aku tidak ingin melakukannya. Semata-mata hanya karena kamu begitu anggun. Pesonamu lebih dari sekedar aroma birahi. Kecerdasanmu lebih dari sekedar pancingan seksual.

Aku hanya ingin mendekapmu disaat aku memasuki mimpi malam hari. Dan aku ingin melihat senyummu disaat aku membuka mata bersama sinar pagi.

Aku hanya ingin tidur denganmu. Bukan menidurimu. Ataupun ditidurimu. Tetapi kalaupun itu terjadi, aku bersumpah aku tidak akan menyesalinya. Karena aku mengagumimu.

Keraguan

•9 June, 2008 • 2 Comments

Mendengar tentangmu,

Membuatku penasaran. Siapakah dirimu?

Bertemu denganmu,

Membuatku ingin mengenalmu.

Mengenalmu,

Membuatku kecanduan untuk berbincang-bincang dengan mu.

Bercakap denganmu,

Membuatku merasa jelek. Karena aku ingin menjadi yang terbaik untukmu.

Sudahkah aku menjadi yang terbaik untukmu? Haruskah aku menjadi yang terbaik untukmu? Lebih dari itu, Maukah kau menerimaku sebagai yang terbaik untukmu?